Menuju Ibadah Kolektif yang Berdaya Guna

“Maqashid al-Hajj” barangkali istilah yang belum populer di kalangan umat Islam pada umumnya. Istilah yang kurang lebih bermakna tujuan-tujuan haji atau maksud yang diinginkan dari ibadah haji ini menyimpan banyak hakekat penting tentang rukun Islam yang kelima ini.

Kenyataan yang masih sedikit disadari banyak umat Islam adalah bahwa setiap ibadah dalam Islam ada “maqashid”-nya, ada tujuan yang mesti direalisasi, ada hikmah besar yang seharusnya terwujud melalui ibadah-ibadah ritual. Seringkali umat Islam melakukan ibadah tanpa berusaha menghidupkan ruh yang terdapat dalam ibadah tersebut. Beberapa ulama dan pemikir Islam berusaha mengeksplorasi makna-makna penting yang tersimpan dalam ibadah haji ini. Ustadz Abul Hasan an-Nadwi mengkhususkan sebuah kitab berjudul al-Arkan al-Arba’ah yang menyingkap makna penting dan hikmah-hikmah yang tersimpan dalam rukun-rukun Islam yang sering kali dilupakan, yaitu rukun sholat, zakat, shaum dan haji. Pemikiran Islam Iran Ali Shariati juga mengarang sebuah buku khusus membahas tinjauan filosofis spiritual dalam ibadah multi nasional ini.

Jika Imam al-Ghazali hidup di jaman kita sekarang mungkin beliau akan menerbitkan kitab Ihya Ulumuddin version 2.0. Inti persoalan umat Islam ada pada “mati”-nya keislaman pada diri umat Islam. Ihya Ulumuddin yang berarti “menghidupkan ilmu-ilmu agama” memang ditulis oleh Imam al-Ghazali ketika dirasakan bahwa ilmu-ilmu agama sedang mati suri. Ilmu fiqh yang seharusnya memberikan pencerahan ruhani justru berubah menjadi sekedar ajaran-ajaran formal yang jauh dari sentuhan hati. Fiqh di jaman itu membatasi diri hanya pada hukum-hukum ibadah dan muamalah tanpa mengksplorasi spirit ajaran agama. Umat hanya berhenti pada batas-batas hukum boleh dan tidak boleh. Akhirnya agama hanya berupa rutinitas dan gerakan-gerakan mati tanpa jiwa. Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjadikan ilmu tasawuf sebagai ruh yang menghidupkan ilmu-ilmu agama Islam.

Revolusi Imam al-Ghazali yang dimulai di penghujung abad kelima hijriyyah tersebut mendorong munculnya generasi baru yang mampu menghidupkan ajaran agama dengan sentuhan keimanan dalam, seperti Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Jika pada generasi sebelum Imam al-Ghazali cenderung ada diferensiasi antara ahli fiqh dan ahli tasawuf, maka pada pada generasi sesudah beliau dikotomi tersebut memudar. Tetapi hal tersebut tidak bertahan lama. Karena pada generasi pewaris berikutnya justru terjadi pemformalan tasawuf yang berakibat pada munculnya tarekat sebagai forum-forum ritual yang sering kali terpisah dari kehidupan praktis.

Sebuah ironisme yang sering terulang dalam ajaran agama adalah hilangnya makna ajaran agama itu sendiri dari kesadaran umat. Ibadah sholat –misalnya- yang disyariatkan untuk menjadi moment ruhani dan pensucian hati, justru dirumuskan dalam kitab fiqh hanya sebagai gerakan dan ucapan tertentu mulai dari takbir sampai kepada salam. Bahkan niat yang hakekatnya murni aktifitas batin malah diartikan sebagai ucapan dan lafal-lafal tertentu. Hal seperti itu terjadi pada hampir semua ibadah, umat Islam banyak yang menjalankan ibadah tanpa mengerti apa makna di balik semua gerakan dan ucapan yang mereka lakukan. Akhirnya Islam menjelma menjadi jasad tanpa ruh, agama menjadi bangunan besar sepi tanpa kehidupan dinamis di dalamnya.

Dari mana pangkal kebuntuan tersebut? Jawabannya adalah keterputusan umat Islam dari al-Qur’an. Kita akan menemukan titik terang jika kita membaca ayat-ayat tentang ibadah dalam al-Qur’an. Jika kita bandingkan pembahasan masalah-masalah ibadah dalam kitab-kitab fiqh dengan pembahasan al-Qur’an tentang masalah yang sama, kita akan temukan perbedaan yang besar. Kita akan temukan bahwa al-Qur’an selalu mengaitkan antara kewajiban ibadah dengan makna ibadah itu sendiri, sesuatu yang tidak kita temukan dalam sebagian besar kitab fiqh. Sebagai contoh kita dapatkan bagaimana al-Qur’an menjelaskan fungsi sholat dalam kehidupan dan bagaimana al-Qur’an menjelaskan makna khusyu pada ayat 45 dan 46 di surat Al-Baqarah:

(45) “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (46) (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.”

Al-Qur’an juga menjelaskan tentang sholat yang efektif memberikan kebahagiaan, ketenangan jiwa dan stabilitas emosi dalam surat al-Ma’arij ayat 19-23:

(19) “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. (20) Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, (21) dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, (22) kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, (23) yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya,…”

Kita akan merasakan suasana ruhani dan horison pemikiran yang sangat intens dalam pembahasan-pembahasan al-Qur’an. Ketika seorang muslim mencukupkan diri dengan buku-buku fiqh dalam mempelajari agama tanpa kembali kepada al-Qur’an, dia akan terpisah dari pancaran cahaya dan ruh al-Qur’an. Hal yang sama terjadi dalam pemahaman sebagian umat Islam mengenai ibadah haji. Ibadah yang bisa dikatakan paling memakan biaya dan membutuhkan tenaga ini seringkali dilaksanakan tanpa efektifitas yang seharusnya.(Fahmi Islam Jiwanto, MA)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s