Dialog Heraklius (kaisar Romawi) dengan Abu Sufyan

Heraklius berkata kepada penerjemahnya, “Katakanlah kepada mereka bahwa aku akan bertanya tentang laki-laki yang mengaku sebagai nabi itu. Jika dia berdusta kepadaku, maka katakan terus terang bahwa dia berdusta”

Abu Sufyan menggigil di tempat duduknya. Ucapan bernada dingin Kaisar Romawi itu membuyarkan seluruh angan pikirannya tentang dukungan Kaisar yang tadi hendak diraihnya. “Demi Allah,” ujarnya sambil menelan ludah pahit, “sekiranya aku tidak takut dicap sebagai pendusta, pasti aku akan berdusta !”

Heraklius : “bagaimana nasab (keturunan) laki-laki itu dikalangan kalian ?”
Abu Sufyan : “dia memiliki nasab yang baik dan mulia di kalangan masyarakat kami”
(memang demikianlah keadaan rasul-rasul yang diutus ketengah kaumnya)

“apakah ada di antara nenek moyangnya yang menjadi raja ?”
“tidak”
(seandainya ada diantara nenek moyangnya yang menjadi raja, aku akan bilang dia adalah orang yang tengah mengorek-orek mencari sisa kerajaan nenek moyangnya)

“apakah kalian pernah mendapati dia berdusta sebelum dia menyerukan apa yang dia katakan itu ?”
“tidak pernah”
(maka aku yakin, mustahil dia yang tidak pernah berdusta kepada manusia sekarang akan berdusta kepada Allah)

“siapakah pengikutnya, orang-orang yang terhormatkah atau orang-orang yang lemah?”
“pengikutnya kebanyakan orang-orang yang lemah”
(memang orang-orang seperti itulah yang menjadi pengikut para rasul)

“Jumlah mereka semakin hari semakain bertambah ataukah berkurang ?”
“jumlah mereka semakin hari semakin beranak pinak”
(begitulah iman sehingga ia bisa menjadi sempurna)

“apakah ada pengikutnya yang murtad karena benci terhadapnya?”
“tidak ada”
(maka begitulah iman jika telah menyatu dengan orang-orang yang berhati bersih)

“apakah kalian memeranginya ?”
“Ya”

“bagaimana jalannya peperangan antara kalian dengan orang itu?”
“kadang dia yang menang, kadang pula kami yang menang”
(begitulah para rasul akan senantiasa diuji, namun pada akhirnya merekalah yang akan keluar sebagai pemenang)

“Apakah dia pernah berkhianat?”
“tidak pernah, bahkan sekarang kami tengah dalam perjanjian damai dengannya (Perjanjian Hudaibiyah) kami tidak tahu apa yang akan dia lakukan”
(memang begitulah sifat para rasul, tidak akan pernah berkhianat)

“apakah yang dia serukan itu pernah diucapkan oleh orang lain sebelum dia?”
“tidak pernah”
(seandainya sebelumnya ada orang yang pernah mengucapkan seperti apa yang dia katakan saat ini, maka akan aku katakan bahwa dia hanyalah orang yang meniru-niru ucapan orang sebelumnya)

“terakhir… apakah yang dia perintahkan kepada kalian?”
“dia menyuruh kami untuk mengerjakan shalat, membayar zakat, menyambung tali silaturahmi dan membersihkan diri dari segala sesuatu yang haram lagi tercela”

Heraklius terdiam dalam. Tatap matanya menerawang. “kalau benar apa yang kamu katakan itu,” katanya kemudian, “Aku yakin dia benar-benar seorang nabi. Sebenarnya aku telah mengetahui bahwa orang seperti dia akan muncul, namun aku tidak menyangka kalau dia akan muncul dari bangsa kalian. Seandainya bukan karena kedudukanku, pasti aku akan datang menemuinya. Dan seandainya aku berada di sisinya, pasti akan aku basuh kedua kakinya. Nanti, kekuasaannya pasti akan mencapai tempat kedua kakiku berpijak ini !”

>> Zaki ahma fahreza <<

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s