Kafir Quraisy Sambut Musim Haji

Diasuh Oleh: Muhith Muhammad Ishaq. Pengajar Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Dirasah Islamiyah Al Hikmah, Jakarta. Anggota Badan Pengembangan Yayasan Islamic Center IQRO Pondok Gede Bekasi.

Musim haji itu menjadi musim yang menggelisahkan para pemuka kafir Quraisy. Kedatangan ummat manusia dari berbagai penjuru Arab menimbulkan kekhawatiran besar bagi mereka akan tersebar luaskannya Islam yang Rasulullah SAW ajarkan.

Maka berkumpullah tokoh-tokoh kafir Quraisy itu di rumah Al Walid bin Al Mughirah, ayah Khalid bin Al Walid, seorang pemuka Quraisy yang sangat disegani karena senior dan kecerdasannya dalam memutuskan perkara. Kaum kafir Quraisy melakukan konsolidasi kebatilan untuk membendung perkembangan dakwah yang terus memancar.

Mereka berkata: “Wahai Abu Abdi Sayms, katakan kepada kami satu pernyataan yang akan kami jadikan sebagai referensi”. Kaum kafir Quraisy meminta agar Al Walid bin Al Mughirah menetapkan satu sikap yang akan mereka terima semua. Tetapi Al Walid menolak cara ini dan mengajak mereka bermusyawarah, agar merasa terlibat dan berlatih merumuskan masalah dengan baik. Al Walid berkata: “Coba katakan apa yang menjadi usulan kalian, akan kami dengarkan dengan baik”. Ada yang mengusulkan: ” agar kita sebut Muhammad itu sebagai Kahin (dukun/paranormal)”

Menanggapi usulan ini Al Walid berkata: “Kita semua telah mengetahui sifat para dukun, dan ternyata ia tidak memiliki sifat itu. Muhammad tidak memiliki mantra-mantra sebagaimana para dukun”.

Lalu ada yang mengusulkan: “Kalau begitu kita sebut saja Muhammad itu majnun (gila)”. Al Walid kembali menolak usulan ini dengan mengatakan: “Kita semua sudah mengetahui ciri orang-orang gila, dan kita tidak temukan satupun ciri itu ada dalam diri Muhammad”.

Kemudian ada yang mengusulkan: “Kita sebut saja Muhammad itu penyair”. Al Walid menanggapi usulan inipun dengan mengatakan: “Kita juga sudah mengetahui dengan baik kaidah-kaidah syair, yang pendek, sedang maupun yang panjang. Dan dalam seluruh ucapan Muhammad itu tidak ada satupun yang sesuai dengan kaidah-kaidah syair yang kita terima. Maka bacaan Muhammad itu pastilah bukan syair Arab seperti yang kita ketahui”.

Lalu ada yang mengusulkan: “Bagaimana jika kita sebut dia sebagai saahir (tukang sihir/hipnotis)”. Al Walid menanggapi usulan ini dengan mengatakan: “Kita juga sudah mengetahui ciri-ciri dan aktifitas para saahir, dan kita tidak temukan itu dalam bacaan Muhammad. Dan yang kita dengar dari bacaannya adalah keindahan yang tiada tara, rasa manis yang tidak terkira, berakar kuat seperti pohon kurma, berbuah rimbun di setiap ranting dan dahannya. Dan apapun yang kalian tuduhkan kepadanya pastilah akan terkuat kebatilan tuduhan itu”.

Perdukunan pada masyarakat jahiliyah saja dianggap sebagai sebutan negatif, setara dengan orang gila, dan tukang sihir sehingga mereka ingin melekatkan itu kepada Rasulullah saw. Namun musyawarah untuk mencari sebutan negatif yang dapat menjauhkan dakwah Rasulullah dari kemungkinan simpati para pengunjung Ka’bah musim haji tahun itu justru memunculkan sebuah kesimpulan yang menguatkan kebenaran dakwah Rasulullah saw, karena semua predikat negatif yang hendak mereka lekatkan pada Rasulullah saw itu akhirnya mentah oleh fakta dakwah itu sendiri.

Al Walid yang menjadi rujukan dalam musyawarah itu menunjukkan pengakuan obyektifnya tentang kebenaran dakwah Rasulullah saw, tetapi semangat permusuhan dan kebenciannya kepada dakwah tidak membuatnya putus asa untuk terus mencari sebutan negatif yang bisa dilekatkan dengan dakwah Rasulullah saw ketika itu.

Maka Al Walid mengatakan: “Sesungguhnya predikat yang paling dekat dengan Muhammad adalah saahir (tukang sihir/hipnotis), maka populerkan istilah itu sebelum kedatangan para pengunjung Ka’bah di musim haji ini. Dan jika ada yang meminta pembuktian kemampuan sihirnya maka jelaskan bahwa Muhammad telah memisahkan hubungan persahabatan antara bangsa Quraisy, ia telah memisahkan hubungan anak dan orang tua, memisahkan hubungan antara saudara, memisahkan hubungan suami dengan istrinya, dan bahkan hubungan keluarga”.

Penjelasan Al Walid bin Al Mughirah dirasa cukup untuk menjadi argumen dalam memberikan label saahir kepada Rasulullah saw. Peristiwa inilah yang diabadikan dalam surah Al Muddatstsir ayat 11sampai ayat 25.

Begitulah kekuatan kafir mencari momentum yang tepat untuk melancarkan serangan kepada dakwah. Momentum musim haji yang mengumpulkan umat manusia dari berbagai penjuru Arab mereka jadikan sebagai sarana konsolidasi. Mereka berencana dan Allah punya rencana, dan rencana Allah pasti akan mengalahkannya. Wallahu a’lam.

Sumber: Majalah SABILI Edisi 07/XIX

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s