HARMONI yang Indah

Pada sebuah dialog dengan kaum muslimin di Srilangka dan Thailand, yang berjumlah 10% dari populasi, “rencana anda semua apa ?” mereka jawab kita minoritas marjinal tujuan kita adalah 1.mempertahankan eksistensi keislaman, dan 2.menjaga persatuan diantara faksi islam.

Kami lalu sampaikan Kerajaan mongol di india yg bangun taj mahal itu, didirikan oleh kaum muslimin dan bertahan hingga 200 tahun, bukankah mereka minoritas di india. Rajanya hindu dan budha. Mereka bisa karena mereka adalah minoritas elit bukan marjinal. Jika mindset minoritas yang dipakai maka maksimun yang bisa dilakukan adalah mempertahankan sikap defensive dan pikiran seperti itu tdk bisa membuat kita berfikir tahun berapa semua orang srilangka masuk Islam.

Padahal dulu nabi bersabda bahwa agama ini akan sampai ke semua manusia sepanjang siang dan malam hingga sampai kepada mereka. Dulu waktu diangkat menjadi nabi beliau seorang diri. 13 tahun kemudian hijrah bersama 200 muhajirin. Bersama 70 ansor (85 muhajirin di Ethiopia) mulailah kehidupan di madinah. Itulah modal awal nabi 270 orang. 5tahun kemudian saat perang khandaq bersama 3000 org, lalu 5tahun selanjutnya haji wada bersama 100ribu org. Populasi india saat itu 100juta org. jadi rasionya 1 lebih. 1500 tahun kemudian berapa rasio orang Islam di dunia ini ? 1,9milyar dari 7 milyar penduduk dunia atau 25% dr populasi penduduk dunia. Inilah yg mengerikan barat karena populasi Islam terus menerus bertambah sementara barat pertumbuhannya nol, jadi rasio ini terus terjadi.

Klo kita mau jadi muslim yg benar maka gunakanlah mindest designer yaitu kita hadir sebagai khalifah utk bumi dgn misi Islam dengan fasilitas berupa ruang dan waktu . Dalam proses ini kan ada tantangan/kendala maka janganlah kendala tersebut dibaca sebagai konspirasi tapi juga dibaca sebagai sarana mencari solusi, problem solving gitu. Ibarat mau membangun rumah, setelah punya tanah lalu berimajinasi kemudian membuat rencana konstruksi, dalam pelaksanaannya mungkin saja bahan baku ngak ada, cash flow kurang, tapi pendekatan designer beda dgn yang pake teori konspirasi, mindest inilah yg perlu diperbaiki.

Designer memandang begini, penerapan syariat islam itu artinya islamisasi kehidupan bukan hanya pada penerapan hukum-hukum Islam saja. Klo persektif hukum saja maka penerapan Islam menjadi sempit tapi beda kalau Islamisasi kehidupan diartikan mentransformasi syariat mjd UU, hal inipun hanya salah satu bukan semua. Hukum ibarat pagar. Tapi kebiasaan orang main diluar pagar, loncat pagar bahkan bobol pagar dari bawah, artinya orang lebih pintar dari hukum buktinya penyidik juga bisa disuap. Hukum itu ada wibawanya, wibawanya adalah keyakinan agama maka ayat ayat makkiyah itu berbicara tentang keyakinan dulu, ketika turun perintah jilbab dan larangan khamar dengan sendirinya ditaati karena komunitasnya sudah terbentuk.

Lalu Bagaimana menjadikan kehidupan sosial lebih islami, boleh jadi bikin film ayat ayat cinta yang ditonton 4 juta org lebih efektif dibanding membuat UU yang hanya diketahui anggota dewan karena tidak tersosialisasi. Dengan demikian saatnya memperbanyak agen perubahan…berapa agen perubahan yang kita miliki..siapa saja orangnya? dalam kerangka seperti itulah kita perlu mengislamisasi agar peran ini tidak menjadi tanggung jawab sebagian kalangan saja.

Karenanya hal penting yang lebih besar bukanlah membuat Undang-Undangnya tapi perang pemikirannya. Tersebarnya kapitalisme karena tidak ada konsep yg menandinginya. Apa yg ada dipemikir Indonesia waktu itu misalnya pa Hatta adalah sosialis agenda ekonomi soekarno dasarnya juga sosilis karena waktu itu yang ada hanya dua mazhab, sosialis buat pancasila yg menjalankan program adalah kapitalis, karenanya bung hatta mengatakan kita ibarat mendayung diantara dua karang. Tapi tidak juga pernah ditemukan konsep ekonomi pancasila itu seperti apa, karena Pancasila bukan ideology tapi consensus yang menyatukan semua ideology. Jadi cara berfikir orang indonesia minsetnya ternyata satu kata yaitu harmoni.

Harmoni memiliki banyak makna bisa persamaan, gotong royong, atau persatuan. Inilah key words mengapa orang Indonesia lebih banyak kebersamaannya coba lihat struktur keluarganya. Bila dalam keluarga tersebut ada satu atau dua yang sukses maka dia menjadi tulang punggung keluarganya, membantu adik-adiknya, kasih modal ke adiknya, kalau adiknya rugi yang dimarahin yang kasih modal. Jadi disini bukan masalah untung atau rugi tapi kebersamaannya. Jeleknya prinsip ini menyulitkan orang yang berfikir progresif ibaratnya kita ini siap miskin berjamaah tapi tidak siap kalau ada satu dan dua yang lebih kaya dari kita. Itulah sebabnya baik komunis, kapitalis dan sosialis tidak benar benar bisa diterapkan karena jenisnya berbeda. Kita tidak membebaskan sebebas bebasnya individu.

Nah persfektif designer yang mengentri syariat dlm pola pikir seperti inilah yang menjadi pendekatan walisongo, yakni pendekatan budaya karena ada alasan berorientasi harmoni. Kita ini ada 300 etnis bahasa dengan kontur wilayah yang 2/3nya laut. Perhatikan lagu lagu bugis itu tidak lain lagu lagu tentang rindu karena semua merantau, akhirnya semua saling rindu kalau dekat mungkin yang ada hanya saling ribut. Karena beragam kita harmoni.

Itulah sebabnya sosialis komunis yang ekstrem ditolak, Islam yang ekstrim juga ditolak. Tapi kalau harmoni harus moderat ada di tengah tengah. Pinter banget engga bodoh banget enggak. Berfikir seperti ini membantu kita memformulasi syariat tersebut , kerja kerja budaya jauh lebih penting dibanding kerja kerja politik.

* disarikan dari ceramah ust. Anis Mata saat ramadhan di kampus UGM dengan dengan perubahan disana sini🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s