LIBERALISASI PENDIDIKAN TINGGI

keblingerOleh: Dr. Adian Husaini
(Ketua Program Studi Pendidikan Islam–Program Pasca Sarjana
Universitas Ibn Khaldun Bogor/Ketua Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia)

Senin (4 Januari 2009) lalu, saya menemukan sebuah buku berjudul Jihad Melawan Ekstrimis Agama, Membangkitkan Islam Progresif (terbit pertama Oktober 2009). Penulisnya Sumanto Al Qurtuby. Buku ini merupakan kumpulan artikel yang salah satunya diberi judul Agama, Seks, dan Moral”. Penulis buku ini adalah alumnus Fakultas Syariah IAIN Semarang yang sekarang sedang mengambil program doktor di Boston University, AS, bidang antropologi politik dan agama. Melalui artikel itulah, kita bisa menyimak secara jelas apa yang dimaksud dengan gagasan Islam progresif, yang belakangan sering dilontarkan dan dianggap sebagai pemahaman Islam yang seharusnya
dianut umat Islam.

Buku ini secara terang-terangan menghalalkan praktik seks bebas, yang penting dilakukan dengan suka rela, tanpa paksaan. Simaklah pendapat penulis tentang seks bebas (perzinahan) dan pelacuran: ”Lalu bagaimana hukum hubungan seks yang dilakukan atas dasar suka sama suka, “demokratis”, tidak ada pihak yang “disubordinasi” dan “diintimidasi”? Atau bagaimana hukum orang yang melakukan hubungan seks dengan pelacur (maaf kalau kata ini kurang sopan), dengan escort lady,
call girl dan sejenisnya? Atau hukum seorang perempuan, tante-tante, janda-janda atau wanita kesepian yang menyewa seorang gigolo untuk melampiaskan nafsu seks? Jika seorang dosen atau penulis boleh “menjual” otaknya untuk mendapatkan honor, atau seorang dai atau pengkhotbah yang “menjual” mulut untuk mencari nafkah, atau penyanyi dangdut yang “menjual” pantat dan pinggul untuk mendapatkan uang, atau seorang penjahit atau pengrajin yang “menjual” tangan untuk menghidupi keluarga, apakah tidak boleh seorang laki-laki atau perempuan yang “menjual” alat kelaminnya untuk menghidupi anak-istri/suami mereka?”

Penulis juga mengecam MUI karena memperjuangkan UU Pornografi dan Pornoaksi. Katanya lebih lanjut: ”Demikian juga jika kita masih meributkan soal kelamin – seperti yang dilakukan MUI yang ngotot memperjuangkan UU Pornografi dan Pornoaksi – itu juga sebagai pertanda rendahnya kualitas keimanan kita sekaligus rapuhnya fondasi spiritual kita. Sebaliknya, jika roh dan spiritualitas kita tangguh, maka apalah artinya segumpal daging bernama vagina dan penis itu. Apalah bedanya vagina dan penis itu dengan kuping, ketiak, hidung, tangan dan organ tubuh yang lain. Agama semestinya ”mengakomodasi” bukan ”mengeksekusi” fakta keberagaman ekspresi
seksualitas masyarakat. Ingatlah bahwa dosa bukan karena ”daging yang kotor” tetapi
lantaran otak dan ruh kita yang penuh noda.”
Bagi kita yang Muslim dan normal, pendapat seperti ini jelas amat sangat salah. Tentu kita patut bertanya, bagaimana seorang lulusan fakultas syariah bisa menjadi seperti itu? Kita yakin, paham itu tidak diajarkan di kampusnya. Mungkin dia mendapatkan dari luar kampus. Tetapi, ketika menjadi mahasiswa Fakultas Syariah IAIN Semarang, ia pernah memimpin sebuah Jurnal bernama Justisia – yang terbit atas izin pimpinan Fakultas – yang isinya sangat anti syariat Islam, termasuk secara terbuka menghalalkan perkawinan sesama jenis. Tahun 2004, Jurnal Justisia menulis sebuah “cover story” dengan judul “Indahnya Kawin Sesama Jenis”. Dikatakan di pengantar Jurnal ini, bahwa: “Hanya orang primitif saja yang yang melihat perkwinan sejenis sebagai sesuatu yang abnormal dan berbahaya.” Mengapa jurnal yang dalam berbagai edisinya sangat melecehkan al-Quran dan syariat Islam bisa terbit dengan bebas di sebuah kampus yang menyandang nama Islam? Ada yang menyatakan, bahwa yang semacam ini, hanya oknum saja. Tetapi, faktanya, oknum itu dibiarkan secara bebas menyebarkan opininya, juga menggunakan nama kampus. Mengapa sebuah lembaga pendidikan yang menyandang nama Islam membiarkan berbagai pemikiran yang menyimpang — bahkan yang melecehkan Islam — berkembang?

Jawabannya: sebenarnya telah berlaku sebuah proses liberalisasi secara sistematis terhadap Perguruan Tinggi Islam. Dan itu diakui sendiri oleh para pelaku dan pengambil kebijakan dalam Pendidikan Islam. Simaklah sebuah buku berjudul: IAIN dan Modernisasi Islam di Indonesia, (Jakarta: Logos, 2002). Buku ini diterbitkan atas kerjasama Canadian International Development Agency (CIDA) dan Direktorat Pembinaan Perguruan Tinggi Islam (Ditbinperta) Departemen Agama.
Dalam buku ini diceritakan sejarah perubahan kampus IAIN, dari lembaga dakwah menjadi lembaga akademis: “Sebagai lembaga berafiliasi kepada agama, IAIN mulanya dimaknai sebagai lembaga dakwah Islam yang bertanggung jawab terhadap syiar agama di masyarakat. Sehingga orientasi kepentingannya lebih difokuskan pada pertimbangan-pertimbangan dakwah. Tentu saja orientasi ini tidaklah keliru. Hanya saja, menjadikan IAIN sebagai lembaga dakwah pada dasarnya telah mengurangi peran yang semestinya lebih ditonjolkan, yaitu sebagai lembaga pendidikan tinggi Islam. Karena IAIN sebagai lembaga akademis, maka tuntutan dan tanggung jawab yang
dipikul oleh IAIN adalah tanggung jawab akademis ilmiah.” (hal. x).

Menurut buku ini, kepulangan para dosen IAIN dari pusat-pusat studi Islam di Barat telah mengubah metodologi dalam mempelajari Islam, sebagaimana yang diajarkan guru-guru mereka (para orientalis) di Barat. Metode itu sangat berbeda dengan metode belajar Islam yang dikembangkan oleh para ulama Islam di masa lalu. Disebutkan lebih jauh: “Salah satu yang menonjol adalah tradisi keilmuan yang dibawa pulang oleh kafilah IAIN (dan STAIN) dari studi mereka di McGill University secara khusus dan universitas-universitas lain di Barat secara umum. Berbeda dengan tradisi keilmuan yang dikembangkan oleh jaringan ulama yang mempunyai kecenderungan untuk
mengikuti dan menyebarkan pemikiran ulama gurunya, tradisi keilmuan Barat, kalau boleh dikatakan begitu, lebih membawa pulang metodologi maupun pendekatan dari sebuah pemikiran tertentu. Sehingga mereka justru bisa lebih kritis sekalipun terhadap pikiran profesor-profesor mereka sendiri. Disamping aspek metodologis itu, pendekatan sosial empiris dalam studi agama juga dikembangkan.” (hal. xi).

Kemudian, sebagaimana diceritakan dalam buku ini pula, liberalisasi Islam yang dimulai dari pasca sarjana UIN Jakarta – yang dipimpin oleh Prof. Harun Nasution –juga dikembangkan ke Perguruan Tinggi Umum melalui dosen-dosen agama yang diberi kesempatan untuk mengambil S2 dan S3 di IAIN Jakarta. “Dosen-dosen mata kuliah agama di perguruan tinggi umum dipersilakan mengambil program S2 dan S3 di IAIN Jakarta, dimana Harun Nasution bertindak sebagai direktur. Dari sinilah kemudian paham Islam rasional dan liberal yang dikembangkan Harun Nasution mulai
berkembang juga di lingkungan perguruan tinggi umum.” (hal. 66). (Cetak miring dan
tebal, dari saya/Adian Husaini).
Karena dianggap berjasa besar dalam meliberalkan IAIN itulah – seperti pengakuan buku yang ditulis oleh sejumlah dosen UIN Jakarta ini — maka di UIN Jakarta, sosok dan pemikiran Harun Nasution terus dipuja. Buku-bukunya dijadikan pegangan. Jangan heran, jika paham Islam Rasional, liberal, atau progresif, terus diajarkan, digaungkan, dan disebarluaskan ke tengah masyarakat. Tentang peran Harun Nasution ditulis: “Namun perlu dicatat pula bahwa pengaruh McGill terhadap
perguruan tinggi Islam di Indonesia sangat kentara berkat jasa dua intelektual Islam,Harun Nasution dan Mukti Ali. Harun Nasution lewat pembaharuan pemikiran keislaman dikenal sebagai sarjana yang sangat konsisten menyuarakan pluralistic approach dalam memahami Islam dan berakar kuat di lingkungan IAIN dewasa ini. Buku Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya menghilhami banyak sarjana Muslim Indonesia untuk melihat betapa beragamnya pemikiran yang berkembang dalam Islam…” (hal. viii).

Peran pusat Studi Islam McGill Kanada yang didirikan oleh Prof. Wlfred Cantwell Smith dan Prof. Dr. Harun Nasution dalam liberalisasi/westernisasi pendidikan Islam juga ditegaskan oleh Departemen Agama melalui sebuah buku berjudul Paradigma Baru Pendidikan Islam, yang diterbitkan oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Islam – Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama RI tahun 2008. Ditulis dalam buku ini: ”Melalui pengiriman para dosen IAIN ke McGill dalam jumlah yang sangat masif dari seluruh Indonesia, berarti juga perubahan yang luar biasa dari titik pandang tradisional studi Islam ke arah pemikiran modern ala Barat. Perubahan yang paling menyolok terjadi pada tingkat elit. Tingkat elit inilah yang selalu menggerakkan tingkat
grass root.”

Tentang peran Harun Nasution dalam pembaratan IAIN ditulis dalam buku ini:
”Harun Nasution mengusung pembaruan pemikiran keislaman. Dia mengenalkan multi pendekatan dan memperjuangkannya dengan sangat konsisten. Pengaruh pemikirannya sangat kuat di kalangan IAIN dan STAIN seluruh Indonesia dan masih dirasakan sampai sekarang.” (hal. 7)

Ditulis dalam buku ini, bahwa pembaruan Islam perlu dilakukan, karena yang menjadi masalah umat Islam Indonesia adalah bahwa sampai saat ini adalah kurang berkembangnya pandangan pluralistik atau penghargaan atas perbedaan di kalangan umat. Pada zaman Harun, tulis buku ini, pengajaran keagamaan sangat normatif dan terpaku pada salah satu paham atau aliran pemikiran, atau bahkan kelompok atau pemikiran orang tertentu dan sangat fiqih oriented. Model pendidikan yang seperti itu
dapat dipastikan akan menghasilkan lulusan yang mempunyai pemahaman dan pemaknaan agama yang sempit. ”Dampak negatifnya adalah kemungkinan munculnya pemahaman yang melihat segala hal yang berbeda dengan paham tersebut sebagai salah, menyimpang dan bahkan sesat.” (hal. 8).
Untuk melakukan pembaruan pemikiran Islam di IAIN, Harun Nasution mencari akar pembenarannya dalam teologi rasional ala Mu’tazilah dan mengenalkannya kepada masyarakat lewat buku dan pengajarannya di IAIN dan program pascasarjana IAIN Jakarta. ”Selama menjadi rektor (1973-1984) dan setelahnya sampai tahun 1990-an sebagai Direktur pada program studi lanjutan pertama yang dibuka di IAIN Jakarta, Nasution mengembangkan pemikiran Islam rasional dan menjadikan program S1 dan pasca sarjana IAIN Jakarta sebagai agen pembaharuan pemikiran dalam Islam dan tempat penyemaian gagasan-gagasan keislaman yang baru.” (hal. 8).

Pada 14 Desember 2009, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Jakarta memberikan “Penghargaan FISIP 2009” kepada tiga cendekiawan Prof Dr Harun Nasution, Prof Dr Nurcholish Madjid, dan Fachry Ali MA. Tiga cendekiawan itu dianggap layak menerima penghargaan karena telah meletakkan dasar-dasar pendekatan ilmu sosial dalam studi keagamaan di Indonesia, khususnya di kalangan perguruan tinggi Islam di Indonesia. “Kontribusi dan sumbangan mereka sangat besar dalam perkembangan pemikiran keislaman dan kemodernan. Mereka memperkenalkan pendekatan ilmu-ilmu sosial dalam mendekati masalah-masalah keagamaan,” kata Prof. Dr. Bahtiar Effendy.
*****
Sebagai Muslim, kita tentu berhak untuk heran, mengapa para dosen perguruan Tinggi Islam ini sangat bangga mengadopsi metode studi Islam ala orientalis. Para orientalis itu, meskipun tahu sebagian ajaran Islam, tetapi tetap tidak mau beriman. Mereka mengembangkan studi agama berbasis pada skeptisisme dengan dalih “pluralistic approach”. Metode ini tidak mengarahkan mahasiswa untuk meyakini kebenaran satu pendapat. Pada akhirnya metode netral agama dalam studi Islam semacam ini hanya merugikan masa depan studi Islam dan Perguruan Tinggi Islam itu sendiri, karena dapat melahirkan sarjana-sarjana yang bangga dalam keraguan dan kebingungan serta tidak meyakini kebenaran Islam.

Dalam disertasinya di Monash University, Australia, yang membahas perkembangan paham “neo-modernisme” di Indonesia, Dr. Greg Barton memaparkan sejumlah program Islam Liberal di Indonesia, yaitu: (a) Pentingnya konstekstualisasi ijtihad, (b) Komitmen terhadap rasionalitas dan pembaruan, (c) Penerimaan terhadap pluralisme sosial dan pluralisme agama-agama, (d) Pemisahan agama dari partai politik dan adanya posisi non-sektarian negara. (Lihat, Greg Barton, Gagasan Islam Liberal di Indonesia, (Jakarta: Paramadina, 1999:xxi).

Kontekstualisasi ijtihad kini digencarkan dan disistematisasikan dengan penggunaan metode hermeneutika dalam penafsiran al-Quran. Ilmu Tafsir yang selama ratusan tahun digunakan oleh kaum Muslim dalam menafsirkan al-Quran, mulai digusur dengan hermeneutika yang biasa digunakan kaum Yahudi dan Kristen liberal untuk menafsirkan Bibel. Dalam liberalisasi keilmuan Islam, dilakukan proses penghancuran otoritas keilmuan terhadap para ulama Islam. Posisi ulama Islam disamakan dengan posisi kaum orientalis. Padahal, ada perbedaan yang sangat mendasar dalam konsep pengakuan otoritas keilmuan, antara Islam dengan Barat. Islam memasukkan unsur iman dan akhlak dalam penentuan otoritas keilmuan seseorang. Dalam Islam, seorang ulama harus berilmu tinggi dan sekaligus berakhlak mulia. Jika ada ulama yang bejat moralnya atau tukang bohong, maka dia tidak patut dijadikan sebagai sumber ilmu. Konsep keilmuan seperti ini tidak berlaku di Barat. Seorang ilmuan hanya diukur berdasarkan kecerdasannya; bukan moralnya. Banyak ilmuwan Barat yang tetap dijadikan rujukan dalam keilmuan dan kehidupan, meskipun perilakunya bejat. Banyak ilmuan besar Islam yang tetap memelihara sikap adil dan beradab dalam mengkaji dan menyebarkan ilmu kepada masyarakat. Dalam tradisi ilmu hadits hal itu sangat terpelihara. Seseorang belum berani menyiarkan satu hadits, jika belum mendapat izin dari gurunya. Dunia keilmuan Islam juga menjunjung tinggi akhlak dan moralitas. Seseorang yang didapati bermoral jahat tidak dipercaya lagi periwayatannya. Ini tentu sangat berbeda dengan tradisi keilmuan di Barat.

Paul Johnson, dalam bukunya “Intellecutals” (1988), memaparkan kebejatan moral sejumlah ilmuwan besar yang menjadi rujukan keilmuan di Barat dan dunia internasional saat ini, seperti Ruosseau, Henrik Ibsen, Leo Tolstoy, Ernest Hemingway, Karl Marx, Bertrand Russel, Jean-Paul Sartre, dan beberapa lainnya. Ruosseau, misalnya, dicatatnya sebagai “manusia gila yang menarik” (an interesting madman). Pada tahun 1728, saat berumur 15 tahun, dia bertukar agama menjadi Katolik, agar dapat menjadi peliharaan Madame Francoise-Louise de Warens. Ernest Hemingway, seorang ilmuwan jenius, tidak memiliki agama yang jelas. Kedua orang tuanya adalah pengikut Kristen yang taat. Istri pertamanya, Hadley, menyatakan, ia hanya melihat Hemingway sembahyang selama hidupnya, dua kali, yaitu saat perkawinan dan pembaptisan anaknya. Untuk menyenangkan istri keduanya, Pauline, dia berganti agama menjadi Katolik Roma. Kata Johnson, dia bukan saja tidak percaya kepada Tuhan, tetapi menganggap “organized religion” sebagai ancaman terhadap kebahagiaan manusia. (He not only did not believe in God, but regarded organized religion as a menace to human happiness). Meskipun begitu, kita tidak bermaksud menolak apapun yang datang dari Barat.

Kita mengakui, tradisi keilmuan di Barat masih menghormati tradisi mereka sendiri. Buku-buku sejarah mereka penuh dengan pengagungan tradisi mereka sendiri, yang bisanya dimulai dari tradisi keilmuan Yunani. Misal, buku World of Masterpieces, memuat karya-karya ilmuwan klasik yang dianggap sebagai pemikir besar oleh Barat, seperti Homer, Xenophanes, Thucydides, Euripides, Plato, Aristotle, Cicero, Catullus, St. Agustine, Dante, Erasmus, Niccolo Machavelli, dan sebagainya.
Tahun 2002, The Cranlana Programme di Australia, menerbitkan dua jilid buku berjudul “Powerful Ideas: Perspective on Good Society” . Buku itu menjadi panduan untuk mendidik para pemikir. Isinya berupa petikan-petikan pemikiran dari para pemikir yang mereka anggap besar dan penting untuk membangun masyarakat ideal yang mereka citakan. Para pemikir besar yang pemikirannya dijadikan bahan kajian adalah Sopochles (495-406 SM), Thucydides (460-400 SM), Plato (428-348 SM), Aristotle (384-322 BC), Confucius (551-479 SM), Mencius (371-289 SM), Xunzi (310-220 SM), Injil Matius, St. Agustine (354-430), Machiavelli, Thomas Hobes, John Locke, Ruosseau, Adam Smith, Imanuel Kant, Karl Marx, John Stuart Mill, dan seterusnya sampai Nelson Mandela,
Martin Luther King Jr, Vaclav Havel, Edward Said, dan sebagainya.

Sebagai satu peradaban besar yang masih bertahan hingga kini, Islam juga memiliki akar sejarah dan tradisi intelektual yang khas. Biasanya setiap peradaban akan menulis sejarah peradabannya sesuai dengan perspektif mereka. Para ilmuwan Muslim atau Perguruan Tinggi Islam seharusnya tetap menerapkan adab dalam ilmu, dengan cara tidak menyamakan ulama Islam yang shalih dengan ilmuwan kafir atau fasik. Apalagi, sampai dia bersikap apriori terhadap tradisi Islam dan ulama Islam, dan kemudian dengan mudah menghujat atau mengkritik para ilmuwan besar Islam tanpa melakukan kajian yang serius dan mendalam. Para ilmuwan Muslim terdahulu juga bersentuhan dengan pemikiran dari kebudayaan asing, dan mereka juga mengadopsi dan mengadapsi pemikiran asing. Tapi tentu sesudah mereka menguasai benar tradisi intelektual dalam pandangan hidup Islam.
Sehingga yang terjadi justru Islamisasi konsep-konsep asing. Demikian pula para pemikir
Barat. Mereka mengambil pemikiran para cendekiawan Muslim dalam berbagai bidang,tapi kemudian mereka transfer kedalam pandangan hidup Barat dan terjadilah pembaratan atau sekularisasi.
Karena itu, sebenarnya salah satu tugas Pendidikan Tinggi Islam yang penting adalah melakukan penguatan terhadap metode dan sistem keilmuan Islam, dan pada saat yang sama, melakukan kajian yang serius terhadap pemikiran-pemikiran Islam, untuk diletakkan dan dinilai dalam perspektif Islamic worldview. Sebagai contoh, yang benar adalah “Konsep Kesetaraan Gender dalam Perspektif al-Quran”, bukan “al-Quran dalam Perspektif Kesetaraan Gender”. Yang benar adalah “Konsep Gender dalam Perspektif Fiqih Islam; bukan “Fiqih Berbasis Gender”, “Tafsir Berbasis Gender”, dan sebagainya. Harusnya, Perguruan Tinggi Islam menjadi pusat Islamisasi Ilmu-ilmu kontemporer, bukan justru menggunakan metode Barat untuk menilai konsep-konsep Islam. Konsep Pluralisme Agama, Inklusivisme, moderatisme, Kesetaraan Gender, Rasionalisme, dan sebagainya, harusnya diletakkan dan dinilai dalam perspektif Islam; bukan malah sebaliknya. Inilah tugas besar kaum Muslim, khususnya para ilmuwan Muslim, yang harus dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan berkelanjutan.

Penutup
Liberalisasi Pendidikan Tinggi Islam merupakan salah satu tantangan dakwah yang sangat serius yang dihadapi umat Islam saat ini. Sebab, dari Perguruan Tinggi Islam lahir calon-calon pimpinan Ormas Islam, dosen dan guru agama, hakim agama, pimpinan MUI, dai, mubaligh, khatib, dan sebagainya. Pada sisi lain, Perguruan Tinggi Umum pada umumnya masih belum secara serius atau bahkan belum terpikir untuk mengembangkan pemikiran Islam yang berkualitas. Perguruan Tinggi Umum pada umumnya melakukan proses liberalisasi/sekularisasi melalui bentuk pembodohan
terhadap pemikiran Islam. Banyak sarjana umum yang tidak memahami pemikiran dan Islam, dan juga merasa tidak perlu memahami pemikiran Islam dengan serius, sebab mereka berpikir secara sekular dan parsial (juz’iyyah), dan bukan berpikir secara universal (kulliyyah). Bahkan, di dunia pendidikan tinggi telah berkembang satu fenomena munculnya manusia-manusia barbar yang baru, yakni manusia yang lahir dari pendidikan yang menganut konsep “spesialisasi sempit” yang membutakan ilmuwan dari khazanah keilmuan bidang-bidang lain. Spesialiasi yang membutakan terhadap bidang lain, menurut Jose Ortega Y Gasset, filosof Spanyol yang berpengaruh besar selepas
Nietszche, telah melahirkan “manusia biadab baru” (a new barbarian): “It is evident that the change has been pernicious. Europe today is taking its sinister consequences. The convulsive situation in Europe at the present moment is due to the fact that the average Englishman, the average Frenchman, the average German are uncultured: they are ignorant of the esential system of ideas concerning the world and man, which belong to our time. This average person in the new barbarian a laggard behind the contemporary civilization, archaic and primitive in contrast with this problem, which are grimly, relentlessly modern. This new barbarian is above all the professional man, more
learned than ever before but at the same time more uncultured.” (Dikutip dari buku Budaya Ilmu (Satu Penjelasan), karya Prof. Dr. Wan Mohd. Nor Wan Daud, (Singapura: Pustaka Nasional Pte-Ltd, 2003).

Parsialisasi dan dikotomi pendidikan semacam ini perlu diselesaikan. Sarjana umum (yang mendalami ilmu-ilmu fardhu kifayah) wajib mendalami pemikiran Islam, seperti aqidah, ulumul Quran, ulumul hadits, fiqih dan ushul fiqih, sirah Nabi dan tarikh Islam, dan tantangan pemikiran kontemporer. Sementara sarjana agama juga wajib mendalami satu bidang keilmuan atau keahlian tertentu sehingga memiliki kemampuan untuk membangun profesionalitas dan kemandirian.
Karena itu, benarlah apa yang dikatakan oleh Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, bahwa problem utama umat Islam saat ini adalah problem keilmuan. Konsep keilmuan harus dirumuskan dengan benar, sehingga lembaga pendidikan dapat menerapkan konsep ilmu yang benar dan menghasilkan serjana yang benar dalam konsep keilmuan. Jika pada tataran konsep ilmu sudah kacau, maka yang terjadi – seperti saat ini –adalah kekacauan keilmuan (confusion of knowledge).
Al-Attas mencatat: “I venture to maintain that the greatest challenge that has surreptitiously arisen in our age is the challenge of knowledge , indeed, not as against ignorance; but knowledge as conceived and disseminated throughout the world by Western civilization.”

Knowledge yang disebarkan Barat itu, menurut al-Attas, pada hakekatnya telah menjadi problematik, karena kehilangan tujuan yang benar; dan lebih menimbulkan kekacauan (chaos) dalam kehidupan manusia, ketimbang membawa perdamaian dan keadilan; knowledge yang seolah-olah benar, padahal memproduksi kekacauan dan skeptisisme (confusion and scepticism); bahkan knowledge yang untuk pertama kali dalam sejarah telah membawa kepada kekacauan dalam ‘the Three Kingdom of Nature’
yaitu dunia binatang, tumbuhan, dan mineral. Menurut al-Attas, bagi Barat, kebenaran fundamental dari agama, dipandang sekedar teoritis. Kebenaran absolut dinegasikan dan nilai-nilai relatif diterima. Tidak ada satu kepastian. Konsekuensinya, adalah penegasian Tuhan dan Akhirat dan menempatkan manusia sebagai satu-satunya yang berhak mengatur dunia. Manusia akhirnya dituhankan dan Tuhan pun dimanusiakan. (Man is deified and Deity humanised). (Lihat, Jennifer M. Webb (ed.), Powerful Ideas: Perspectives on the Good Society, (Victoria, The Cranlana Program, 2002), vol 2, hal. 231-240).

Tantangan liberalisasi di dunia pendidikan tidak akan pernah teratasi jika umat
Islam tidak serius merumuskan konsep ilmu dan kemudian mengaplikasikannya dalam
dunia pendidikan, mulai tingkat TK sampai tingkat Pendidikan Tinggi. Yang sangat
mendesak saat ini adalah melakukan apa yang disebut al-Attas sebagai “Islamisasi Ilmu”,
dimana salah satu aktivitasnya adalah melakukan proses “deliberalisasi” atau
dewesternisasi ilmu pengetahuan dan pendidikan. Wallahu A’lam. (Disampaikan dalam
acara Seminar tentang Sekularisasi dan Liberalisasi Islam di Perguruan Tinggi, oleh
Keluarga Mahasiswa Islam ITB, di Kampus ITB, 23 Mei 2010.). (*****)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s