TRAGEDI CINTA

habibi
Ada sisi lain yang menarik dari pengalaman emosional para pahlawan yang berhubungan dengan wanita. Rumah tangga para pahlawan selalu menampilkan atau bahkan menjelaskan sisi lain dari kepribadian para Pahlawan. Dari sanalah mereka memperoleh energi untuk bekerja dan bekarya.

Muhammad bin Daud Al Zhahiri, pendiri Mazhab Zhahiriyah, menjelang wafatnya~saat dijenguk mencurahkan isi hatinya tentang kisah kasihnya yang tak sampai. Ternyata beliau mencintai tetangganya, tapi entah bagaimana, cinta suci dan luhur itu tak pernah tersambung jadi kenyataan. Demikian yang dikisahkan Ibnu Qoyyim.

Kisah Sayyid Quthub bahkan lebih tragis. Dua kali jatuh cinta dua kali pula patah hati, kata DR. Abdul Fattah Al Khalidi yang menulis tesis master dan disertasi doktornya tentang Sayyid Quthub. Gadis pertama dari desanya sendiri, yang kemudian menikah hanya tiga tahun setelah Sayyid pergi ke Kairo untuk Belajar.

Gadis kedua berasal dari Kairo. Tragedinya justru terjadi pada hari pertunangan. Sambil menangis gadis itu menceritakan bahwa Sayyid adalah orang kedua yang telah hadir dalam hatinya. Pengakuan itu meruntuhkan keangkuhan Sayyid, karena ia memimpikan seorang yang perawan fisiknya, perawan pula hatinya. Gadis itu hanya perawan pada fisiknya.

Kebesaran jiwa yang lahir dari rasionalitas, dan sangkaan baik kepada Allah menambatkan harapan kepada sumber segala harapan ; Allah ! begitu Sayyid Quthub menyaksikan mimpinya hancur berkeping-keping, sembari berkata “Apakah kehidupan memang tidak menyediakan gadis impianku?” setelah itu ia berlari meraih takdirnya ; dipenjara 15 tahun, menulis Fi Dzilalil Qur’an, dan mati di tiang gantungan !

Umar bin Abdul Azis, Khalifah rasyidin kelima ini pernah mengalami kejadian yang mengharu biru hidupnya. Istrinya, Fatimah yang awalnya atas nama cinta dan cemburu berubah dengan mengizinkan Umar untuk menikahi seorang gadis yang memang sudah lama ia cintai.

Tapi umar meyakini ada cinta diatas cinta ! akhirnya ia menikahkan gadis itu dengan pemuda lain. Tidak ada cinta yang mati di sini. Karena sebelum meninggalkan rumah umar, gadis itu bertanya dengan sendu, Umar, dulu kamu pernah sangat mencintaiku. Tapi kemanakah cinta itu sekarang ? Umar bergetar haru, tapi ia kemudian menjawab “cinta itu masih ada, bahkan kini rasanya jauh lebih dalam !”

Sumber : Anis Matta, Lc

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s