“yuks mencintai ploduk-ploduk Indonesia”

mobil dahlan
Pada 23 September 2012, saya menjejakkan kaki di Negeri Ginseng, Korea Selatan. Mungkin saya adalah salah satu orang yang beruntung, karena banyak sekali remaja atau anak muda Indonesia yang sangat ingin mengunjungi Korea Selatan karena tertarik untuk mengunjungi tempat tempat pembuatan drama Korea atau hanya sekedar ingin melihat laki laki korea yang (katanya) tampan. Tapi, tujuan saya ke Korea sama sekali bukan untuk mengunjungi tempat pembuatan drama Korea Selatan, apalagi mencari laki-laki Korea Selatan yang saat ini banyak digandrungi perempuan muda Indonesia. Menurut saya, masih ada hal yang lebih menarik lagi untuk dikaji dari Korea Selatan.

Indonesia dan Korea Selatan, bisa saya sebutkan hampir sebagai negara kembar. Mengapa? Karena ulang tahun Indonesia dan Korea Selatan hanya berselang 2 hari. Korea Selatan merdeka pada tanggal 15 Agustus 1945, sedangkan Indonesia merdeka 2 hari setelahnya, yaitu tanggal 17 Agustus 1945. Indonesia dan Korea Selatan sebenarnya memiliki umur yang sama, namun saat saya menginjakkan kaki di Korea Selatan, saya berpikir mengapa kondisi Korea Selatan dan Indonesia berbeda?

Saat tiba di bandara Korea Selatan, yaitu Incheon International Airport, saya disambut oleh kondisi bandara yang sangat bersih. Betapa tidak, Incheon International Airport merupakan bandara dengan predikat terbersih di dunia. Saat saya secara sengaja “mengecek” kamar mandinya, itu juga sangat bersih. Dan yang saya kagumi adalah tidak ada merk Eropa, China atau Jepang yang dipakai pada perabot toilet di sana. Semua adalah produk Korea dan ketika saya mengotak-atik alat-alat itu, kualitasnya pun tidak kalah jauh dengan merk Eropa, Jepang atau China yang biasa saya temui di toilet-toilet di Indonesia.

Keluar bandara, saya disambut oleh petugas hotel tempat saya menginap yang bertugas untuk menjemput dan mengantar saya ke hotel di daerah Seoul. Petugas hotel itu sangat ramah, namun sayangnya dia tidak bisa bahasa Inggris. Dengan modal kemampuan bahasa Korea seadanya yang saya pelajari selama 4 tahun di jurusan Korea, Universitas Indonesia, akhirnya saya dapat berkomunikasi dengan petugas hotel itu. Lalu kami menuju tempat parkir mobil untuk menaruh barang bawaan. Di tempat parkir mobil, tidak saya lihat satupun mobil Jepang atau Eropa di barisan tempat mobil hotel saya parker, rata-rata semua bermerk KIA, Hyundai atau Ssang Young. Begitupun taksi. Di Indonesia, taksi sekelas blue bird masih memakai mobil Toyota Vios untuk taksi regular dan Toyota Alphard/Mercedes Benz untuk taksi kelas atas, namun di Korea jangan harap ada taksi yang menggunakan mobil luar negeri. Hampir semua taksi yang saya lihat bermerk Hyundai.

Setibanya di hotel, saya istirahat sejenak lalu pergi ke luar untuk mencari makan di daerah Itaewon. Itaewon adalah salah satu daerah di Seoul yang memiliki masjid terbesar di Korea Selatan. Alasan saya pergi ke Itaewon saat itu adalah karena waktu yang hampir menunjukan masuk waktu Dzuhur, jadi saya ingin shalat pertama saya di Korea Selatan dilakukan di masjid Itaewon. Akhirnya saya keluar ke arah stasiun kereta bawah tanah untuk pergi jalan jalan. Saya harus membeli T-Money Card dan mendepositkan uang di dalam T-Money Card agar saya bisa menggunakan kartu itu untuk transaksi tiket kereta bawah tanah. Dengan berbekal peta kereta bawah tanah akhirnya saya dapat mengetahui kereta mana yang mengarah ke daerah Itaewon. Saya naik kereta bawah tanah line 5 agar bisa turun di stasiun Itaewon. Kereta bawah tanah Korea sangat menunjang fasilitas bagi lansia, ibu hamil dan orang cacat. Menurut saya kereta bawah tanah Korea tidak jauh berbeda dengan MRT di Singapura. Namun yang membuat saya terpukau adalah kondisi di dalam kereta bawah tanah Korea Selatan yang sangat nyaman, tidak terlalu banyak orang. Itu karena persediaan kereta yang banyak sehingga kedatangan tiap kereta hanya berjarak 10 hingga 15 menit. Jadi setiap 10 atau 15 menit sekali kereta dapat mengangkut orang. Di dalam kereta, saya melihat orang-orang streaming acara berita atau acara televisi dari smartphone mereka. Ada juga yang bermain game, chatting atau sekadar membuka media social dari smartphone mereka.

Di Indonesia, anak muda pasti bangga sekali jika mereka dapat mengeluarkan gadget Blackberry dari kantongnya. Namun jangan harap ada orang Korea yang mengeluarkan Blackberry dari kantong mereka. Saya telusuri lorong kereta satu demi satu, semua menggunakan smartphone produk Korea, entah LG, Samsung atau merk Korea lain. Yang pasti saya berani memastikan jarang sekali atau bahkan hampir tidak ada orang Korea yang menggunakan Blackberry. Hal itu yang membuat saya terpukau. Sepanjang tempat duduk di kereta bawah tanah, hampir tidak ada satupun merk ponsel luar negeri yang mereka keluarkan dari kantong mereka. Dari sini saya mulai berani menyimpulkan bahwa orang Korea Selatan memiliki rasa nasionalisme yang sangat tinggi. Mereka sangat mencintai dan bangga dengan produk negara mereka sendiri. Terlihat dari perabot yang mereka gunakan, alat tarnsportasi dan media telekomunikasi yang mereka gunakan hampir semuanya pasti menggunakan produk Korea.

Saya jadi teringat kelas Budaya Perusahaan Korea yang pernah saya ikuti 2 tahun silam. Pada saat krisis moneter tahun 1998, Korea Selatan pun terkena dampak krisis ekonomi. Pada saat itu banyak perusahaan Korea yang tumbang, umumnya perusahaan kecil menengah di Korea Selatan.

Karena keadaan ekonomi yang semakin terhimpit saat krisis moneter 1998, tingkat ketahanan usaha di sektor import dari negara asing terhadap Korea Selatan pun merosot tajam, akhirnya kondisi tersebut “memaksa” orang Korea untuk memproduksi alat-alat yang sama seperti kualitas barang import. Pemerintah Korea Selatan pada saat itu berani memberikan pinjaman dengan jumlah yang sangat besar kepada Chaebol. Chaebol adalah istilah untuk perusahaan-perusahaan konglomerat. Saat krisis besar-besaran justru pemerintah Korea Selatan memberikan pinjaman yang besar kepada para Chaebol seperti Samsung, Hyundai untuk melakukan riset dan membuat produk yang bagus setara dengan kualitas Eropa. Pemerintah Korea benar benar membantu Chaebol agar dapat berkembang. Di saat yang sama, pada saat krisis moneter warga negara Korea Selatan diwajibkan menyumbangkan cincin/gelang emas yang mereka punya kepada negara untuk membantu kestabilan ekonomi mereka saat itu.

Singkat cerita, perlahan, satu persatu dari Chaebol mulai dapat memproduksi alat dengan kualitas bagus. Alat tersebut kemudian mulai dipasarkan kepada warga Korea Selatan dengan harga yang relatif murah. Pemerintah Korea Selatan yang menangani fasilitas umum pun menggunakan produk dalam negeri untuk penggunaan kereta bawah tanah yang dibangun pada awal tahun 2000-an, bus, KTX (Kereta Ekspres), mesin-mesin dsb. Setelah fasilitas umum di Korea “disulap” berganti menjadi produk dalam negeri, mulai berkembanglah “virus” cinta produk dalam negeri di hati warga negara Korea Selatan. Warga negara Korea Selatan pun pada akhirnya lebih memilih menggunakan produk dalam negeri dalam keseharian mereka, meski pada saat itu mungkin kualitas produk Korea masih jauh dibanding produk Eropa atau Jepang. Namun memakai produk dalam negeri merupakan suatu kebanggan tersendiri bagi orang Korea. Salah satu teman saya berkata,

“Ini produk negara aku, Negara aku bisa membuat ini, untuk apa membeli produk luar negeri?”

Suatu hari saya bertanya kepada teman Korea saya yang lain. “Apakah kamu tahu Blackberry?” (sambil mengeluarkan Blackberry dari kantong), lalu dia jawab, “Tidak tahu dan aku gak mau tahu.. Lebih baik pakai ini saja” (sambil menunjukkan Samsung S3 yang dia punya). Lalu saya tanya kembali, “Kenapa kamu suka sekali dengan produk ini?”, lalu dia jawab,

“Kalau bukan aku sebagai warga Korea, siapa lagi yang akan bangga dan akan mencintai produk negara Korea?”

That’s the quote!!

Banyaknya pengguna produk Korea di Korea sendiri, sebenarnya merupakan “iklan” untuk produk tersebut bagi orang asing yang berkunjung ke Korea. Bagaimana tidak, di jalan saya selalu melihat mobil Hyundai Avante yang terkesan mewah dan belum dijual di Indonesia. Saya pun jadi mulai tertarik untuk mencari tahu tentang spesifikasi mobil itu. Di kereta bawah tanah, saya selalu “disuguhi” pemandangan serba Samsung Galaxy Note atau Samsung S3, itu pun membuat saya menjadi ingin tahu tentang produk itu di internet. Setelah saya tahu tentang kualitas yang baik, saya pun jadi “tertarik” untuk membeli produk itu (meskipun belum beli sampai sekarang, hehe). Dan membuat saya bercerita kepada teman teman di Indonesia tentang Samsung Galaxy Note dan mobil Hyundai Avante.

Sadar atau tidak sebenarnya gaya hidup cinta produk sendiri itu juga merupakan “iklan” bagi produk tersebut untuk dipakai orang lain, terutama orang asing yang awalnya sama sekali tidak mengetahui tentang produk tersebut. Ketika orang asing tersebut bercerita tentang keistimewaan produk Korea kepada teman teman mereka di negara asalnya dan membuat teman temannya tertarik untuk membeli produk tersebut, sadar atau tidak pada saat itu mereka juga membantu pertumbuhan ekonomi Korea melalui tangan Chaebol. Dan perputaran uang atas jual beli produk Korea di negara lain akan terus berputar. Sebenarnya simple sekali cara Korea Selatan memutar roda perekonomian mereka atas jual beli produk dalam negeri mereka baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Mereka hanya memulainya dengan rasa cinta dan bangga terhadap produk dalam negeri mereka dan mereka menularkannya kepada orang asing. Dan kita lihat hasilnya sekarang, produk Korea memang tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Sampai Apple pun sekarang menjadikan Samsung sebagai “kompetitor” utama dalam perusahaan mereka

Inilah pelajaran paling berkesan selama saya berada di Korea. Saya ingin sekali warga negara Indonesia pun bangga dengan produk dalam negeri. Saya yakin anak-anak Indonesia semua anak pintar. Pemerintah seharusnya dapat membantu menyekolahkan teman teman yang memiliki keahlian dalam bidang teknologi atau bidang lain hingga jenjang tertinggi atau memberikan pinjaman modal kepada produsen tanah air dengan bunga yang rendah. Di Korea, bunga yang harus dibayarkan dalam peminjaman uang untuk UKM tidak lebih dari 5%, yakni sekitar 3% per tahunnya Ini sangat berbeda dengan bunga pinjaman modal usaha kecil dan menengah di Indonesia yang mencapai 12-13% per tahunnya. Bunga pinjaman yang kecil juga termasuk salah satu faktor tumbuhnya wirausahawan di Korea Selatan.

Pemerintah membantu, dan memberikan fasilitas kepada produsen tanah air, setelah produk dalam negeri memiliki kualitas yang baik, kemudian fasilitas umum di Indonesia semua mulai disupply dari produsen dalam negeri dan akhirnya warga negara Indonesia pun pasti akan turut memakai produk produk dalam negeri. Saya akui perlu adanya kerjasam antara pemerintah, pengusaha dan warga Negara Indonesia. Karena sampai kapan kita akan terus pakai produk luar negeri? Ayo bersama majukan produk dalam negeri! Kalau bukan kita sebagai warga negara Indonesia, siapa lagi yang akan bangga dan cinta terhadap produk-produk dalam negeri??

Sumber : Fimadani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s