Radikalisasi Masalahnya Bukan Pada Agama, Tapi Persepsi Terhadap Agama

radikal

KH.Hasyim Muzadi

Masalahnya bukan pada agama, tapi bagaimana persepsi kita terhadap agama, bagaimana penyerapanya, dan bagaimana penyajian agama itu.

Secara konvensional, agama disajikan dalam nilai, norma, serta sosialisasi (pengamalan individual maupun kolektif), baik secara kultural maupun konstruksi kenegaran. Penyajian ini, mengambil tiga kelompok besar: nilai disajikan melalui akhlak, norma disajikan melalui fiqih, dan sosialisasi disajikan melalui dakwah.

Agama tidak boleh dengan sendirinya mengajarkan kekerasan. Tapi akan terjadi kekerasan manakala ada ketimpangan antara norma, nilai, kemudian guidence and conselling dalam menjalankan tata kemasyarakatan.

Kenapa NU dan Muhammadiyah relatif tenang? karena antara akhlak-tasawwuf, fiqih, dan dakwah berjalan sebaris. “Kita tahu bahwa ini halal dan ini haram. Tapi kalau melihat orang memakai keharaman, tidak serta merta kita marah-marah, tapi bagaimana dakwah kita agar dia kembali ke jalan yang benar,”

“Jadi kyai semua tahu bahwa orang itu kafir. Namun yang mereka fikirkan bukan mengkafir-kafirkan, tapi bagaimana yang kafir itu menjadi muslim melalui proses guidence and conselling dalam dakwah,”

Bahwa guidence and conselling dalam dakwah itu mempunyai tiga pilar, yaitu: al-hikmah (al-adillat al-muhakkamah), al-wa’du wal-irsyad, al-mujadalah bil-lati hiya ahsan. Kalau kita hanya menggunakan hitam-putih, tapi tidak menggunakan dakwah dalam guidence and conselling, yang terjadi adalah dikotomi antar sektarian dalam Islam itu sendiri.

Itu terjadi karena kesenjangan antara dakwah dengan fiqih. Fiqih itu adalah bagian dari Islam, belum keseluruhan dari Islam

Radikalisasi agama, juga terjadi karena kesalahan memahami dan membawakan agama yang tidak memperhitungkan kondisi yang ada. Kesalahan memahami agama karena tidak ada pemilahan antara agama sebagai ajaran dan budaya yang disahkan agama atau ditentang agama.

Faktor lain yang menimbulkan radikalisasi agama adalah faktor non agama yang kemudian dimasukan ke dalam agama, lalu dibuat gerakan yang seperti gerakan agama tapi sesungguhnya kepentingannya non agama.

Radikalisasi, juga muncul karena respon terhadap nahi mungkar pada dosis yang melebihi ukurannya sehingga menimbulkan munkar baru sebelum munkar yang lama bisa dihilangkan.

sumber:kemenag, dengan sedikit editan.foto:tamara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s