Damai dengan pertolongan Allah.

lebaran di surga
Keimanan kepada akhirat membuat kita damai, aman, tenteram dan sabar dalam menyaksikan semua ini, sekalipun air mata berkucuran menahan sedih, hati rasa tercabik-cabik menanggung pilu dan tubuh lunglai menyaksikan peristiwa demi peristiwa. Di sana kelak segalanya akan diadili seadil-adilnya, oleh Zat Yang Maha Adil, yang tidak ada secuil pun barang bukti luput dari pantauan-Nya.

Seberapa hebat mereka mampu melakukan kekejaman? Paling hebat sampai terpisahnya nyawa orang yang sudah pasti akan mati juga.

Seberapa kekuatan mereka melakukan kezaliman? Paling banter mereka hanya mampu melakukan sesuatu yang sudah ditaqdirkan Allah.

Seberapa lama mereka bisa berlaku angkuh, sombong, durjana dan jumawa? Paling lama sampai ajal yang sudah ditentukan Allah datang kepada masing-masing mereka.

Seberapa luas mereka bisa menyebarkan fitnah, dusta dan makar? Sehebat-hebatnya tidak akan keluar dari bumi dan tidak akan mampu menembus langit.

Lalu, bagaimana bentuk pertolongan Allah terhadap orang-orang beriman itu? Sementara mereka banyak yang dibantai, ditindas dan mengalami kesengsaraan di dunia ini.

Barangkali pertanyaan seperti itu sering muncul dalam fikiran kita.

Allah berjanji dalam surat Ghafir: 51
“Sesungguhnya kami pasti menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan di hari berdirinya para saksi (hari Kiamat)”.

Dalam ayat ini Allah menjanjikan pertolongan bagi hamba-Nya yang beriman pada dua tempat; di dunia dan akhirat.

Bentuk pertolongan Allah terhadap hamba-Nya di dunia ini ada dua macam:

1. Berbentuk lahir/kongkrit; dengan kemenangan melawan musuh-musuhnya dan hancurnya kekuatan musuh atau bertekuk lutut di bawah perintahnya.

2. Berbentuk batin/abstrak; dengan tersingkapnya kebenaran, terbuktinya kedustaan dan kesesatan lawan, mendapatkan kehormatan dan dukungan moril dari para pembela kebenaran dan terbukanya hidayah bagi orang banyak.

Poin ke dua ini jauh lebih penting dari pada yang pertama. Kadangkala seorang atau sekelompok pembela kebenaran tidak berhasil memenangkan pertempuran melawan ahli batil, namun mereka sudah mampu menegakkan hujjah di hadapan orang banyak, sehingga banyak orang yang tersadarkan dan memperoleh hidayah.

Sebenarnya inilah keberhasilan hakiki dan pertolongan yang sangat besar dalam dakwah. Bukankah tujuan dakwah itu menyampaikan hidayah kepada hati-hati manusia. Apa gunanya bila seorang da’i mampu memakmurkan manusia banyak secara fisik, namun keimanan mereka tetap saja keropos.

Kita lihat kisah pemuda Ashhabul Ukhdud yang merelakan nyawanya untuk dihukum mati, tapi setelah itu semua orang beriman kepada Allah. Sekalipun semua mereka akhirnya habis dibantai dengan cara dimasukkan ke dalam lobang yang sudah dipenuhi api, tapi mereka berhasil mendapatkan kemenangan sebenarnya di akhirat kelak. Kemenangan itu jauh lebih penting dari pada sekedar berkuasa di permukaan bumi.

Bukankah kita saksikan di hari-hari belakangan ini ada jutaan orang tersadar tentang pentingnya memperjuangkan agamanya? Tidakkah kita lihat kedok-kedok yang menyembunyikan wajah-wajah pecundang selama ini jadi terbuka? Bukankah orang-orang yang bersembunyi dibalik topeng keulamaan dan jubah kebesaran ahli agama, yang selama ini menipu umat dengan nama besarnya menjadi tersingkap, dan ketahuan siapa dia sebenarnya?

Itulah pertolongan Allah kepada kita. Kita jadi mampu membedakan antara hak dan batil, benar dan salah. Ketahuan siapa yang ikhlas dan siapa yang munafik. Tersadarkan siapa kawan dan siapa lawan.

Selain itu, bukankah kita saksikan hari ini para pemuda yang sebelumnya tidak mau tahu tentang permasalahan agama, umat dan lingkungannya, tiba-tiba tersadarkan menjadi pemuda yang punya perhatian terhadap masyarakatnya, ingin memperjuangkan agamanya, bahkan menjadi perindu kesyahidan di jalan Allah.

Tidakkah jutaan orang di Indonesia sana atau dibelahan bumi Allah lainnya, bahkan mungkin kita yang membaca tulisan ini, dulu tidak mau tahu tentang nasib umat Islam, tiba-tiba meneteskan air mata melihat nasib saudaranya dibantai? Mereka mulai tersadar bahwa mereka adalah bagian dari umat yang bagaikan satu tubuh ini, yang merasakan pedih ketika bagiannya disakiti.

Tidakkan banyak umat Islam di seluruh penjuru dunia menengadahkan tangan mendo’akan saudaranya yang lagi kemalangan. Yang bangun di tengah malam dengan linangan air mata bermunajat kepada Allah supaya saudaranya dibebaskan dari penderitaan? Turun kejalan-jalan berunjuk rasa terhadap penzaliman?

Sebagian pertolongan Allah sudah kita rasakan, sekarang kita memohon kepada Allah supaya diturunkan pertolongan lainnya berupa “tamkin/kejayaan” atau kemenangan atas musuh. Dia pasti datang pada waktu yang sudah ditentukan Allah. Tinggal kita harus memperjuangkannya dan selalu optimis berdo’a untuk itu.

Di hari kedatangannya semua mata akan mengucurkan air mata haru, sambil bibir terus mengumandangkan takbir kemenangan…. Allahu Akbar…. Allahu Akbar…. Allahu Akbar walillahil hamd.

Zulfi Akmal, Kairo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s