Jiwa-jiwa yang tetap utuh

 

Image

“Inna lihadzihid da’wati rabban yahmiiha”
(sesungguhnya dakwah ini milik Allah, dan Allah lah yang akan menjaganya)


Kalimat ini mengingatkan kita pada penyerangan tentara Abrahah bin Al-Asyram ke Kota Mekkah.  Alasan utama penyerangan karena  disana ada Ka’bah yang dijadikan simbol orang-orang Mekkah dan jazirah Arab, ketika mereka melakukan ibadah haji.

Saat pasukan Abrahah sampai di Mekkah, mereka melewati suatu perkampungan, Abrahah ‘menyita’ dan ‘merampok’ semua harta penduduknya. Menariknya,  ketika sampai di sebuah pinggiran kota Mekkah, mereka  ‘menyita’ 200 onta milik Abdul Muthalib, kakek Rasulullah saw. Abdul Muthalib tidak terima dengan tindakan premanisme Abrahah. Kemudian ia menuntut Abrahah agar mengembalikan 200 onta miliknya.

Terjadilah dialog antara keduanya. Dengan nada mengejek, Abrahah bertanya balik kepada Abdul Muthalib, “ Engkau datang kepadaku hanya ingin mengambil 200 onta? Sungguh sangat hina. Kenapa engkau malah tidak melakukan pembelaan terhadap Kakbah yang akan segera aku hancurkan?.”

Abdul Muthalib menjawab, “Engkau tahu, bahwa 200 onta ini milikku. Adapun Kakbah itu sudah ada pemiliknya. Pemilik Ka’bah itulah yang akan melakukan pembelaan terhadapmu. Pemilik Ka’bah inilah yang akan menjaganya (inna lihaadzal baiti rabban yahmiihi).”

Sahabat, mari kita renungi, da’wah ini adalah proyek Allah Swt, karenanya Dialah, Allah swt yang akan memilih siapa yang akan menjadi tentara-Nya yang memikul  beban da’wah ini, dan Allah swt pula yang akan menyeleksi para pejuang-Nya, Allah swt selalu punya cara untuk melakukan seleksi. Bukankah kita menemukan, orang yang dahulu merekrut kita menjadi bagian dari dakwah ini, namun di kemudian hari ia menjadi provokator dan penyebar kebencian terhadap kita sendiri.

Di sisi lain ada juga jiwa-jiwa yang di awal hingga akhir tetap utuh. Tak terlalu nampak perubahan mencolok. Secara karir biasa-biasa saja. Posisi pun tidak berubah. Terkadang ikut rombongan untuk naik level, tapi sekali lagi ia biasa-biasa saja. Prinsipnya menjadi garam di masakan. Wujudnya tak terlalu nampak namun perannya dirasakan ada, walau ia dianggap biasa!

Ia adalah pribadi yang laa syai (nothing). Namun ia terus bersabar … terus bersabar … dan mereguk lautan makna dari asam manis garam kehidupan. Ia tak terdorong untuk mencaci saat samudera dakwah itu nampak kotor di permukaan. Sampah berserakan. Bahkan tak sedikit bangkai ikan yang bertebaran! Ia hanya terus bertahan. Karena bagi dirinya, samudera yang kotor sekalipun jika terus fokus dalam misi dan visi, akan tetap bermanfaat mengantarkan kapal ke buritan. Maka jangan aneh, bila suatu saat nanti tipe-tipe kader Laa syai inilah yang di kemudian hari menjadi kullu syai!

Nandang Burhanudin & Rosandi Ardi Nugraha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s